Iftar dan Generasi Jong Aceh

Iftar dan Generasi Jong Aceh




x

SEBUAH ajakan iftar atau berbuka puasa masuk ke telepon pintar saya. Undangan tersebut masuk bakda Zuhur. Agak berat buat menjawab. Karena, selama puasa tahun ini saya fokus iftar di rumah. 

Bersama keluarga. Anak pertama saya yang berumur 10 tahun, ingin ayahnya ada di meja makan saat sirene bunyi. Itu saja.

Tapi, undangan kali ini beda. Sulit ditolak. Meski yang undang bukan pejabat atau pun wakil rakyat. Undangan ini datang dari Teuku Ade Ferdian. Pelaku dan pembina sepak bola di Banda Aceh. Dia adalah founder Jong Aceh Football Academy. Disingkat Jong Aceh FA.

Passion atau gairah saya memang ada di sepakbola. Itu sudah lama mendarah daging. Alhamdulillah dengan passion itu pula, saya akrab, dekat dengan seorang anak yang ditemukan saat bencana tsunami 2004 mengenakan baju timnas Portugal. Martunis namanya.

Kala itu, Martunis kecil seakan menjadi gambaran anak-anak di Aceh yang hidupnya akrab dengan sepak bola. Membranding seorang penyintas tsunami itu saya lakukan tanpa lelah. Framing yang saya rakit, — dibantu rekan-rekan media — yang lain, Alhamdulillah sukses mendunia. Meski kelak dia gagal menenuhi harapan. Gagal menjadi pemain bola.

Gagal bukan karena tak punya kesempatan. Tapi dia gagal memanfaatkan peluang gergasi itu. Padahal, ia bisa akrab dengan bintang sepakbola dunia, Cristiano Ronaldo dan dicintai rakyat Portugal, tapi dia gagal memanfaatkan momen langka itu. Akhirnya, semua kerja keras saya buyar. Menjadi pemain bola gagal. Kini, dia malah “terjerumus” dalam dunia pertik-tokan alias selebgram.

Itu cerita usang. Sehingga tak menarik lagi kita kupas dari sisi sepakbolanya. Tapi entah dari segmen selebgram. Mungkin saja menari, bisa juga tidak. Tergantung dari kacamata mana kita menilainya.

Tapi, cerita ditulisan ini masih tetap terkait dengan passion tadi. Ketika saya menerima undangan iftar dari pertinggi Jong Aceh FA, tak ada pilihan lain. Cuma satu kata. Ikut hadir. “Insya Allah coach,” jawab saya.

Kenapa? Karena Jong Aceh adalah salah satu akademi sepak bola. Mereka kontinue mendidik bakat-bakat sepak bola. Secara kelembagaan solid. Bahkan, pelatih level nasional, Iwan Setiawan acap menjadikan Jong Aceh FA ini sebagai role model dalam pembinaan.

Kurikulum pendidikannya mantap. Sejak dini, peserta didik — khususnya pemain bola yang masih bocah-bocah — diajarkan attitude, sopan santun, bukan sopan santuy yaa, serta konsep dasar menjadi pemain bola. “Konsep sepak bola usia muda, bukan kemenangan yang dicari,” tukas Teuku Ade Ferdian.

“Tapi, bagaimana anak-anak pada level ini bisa bergembira ria, bersenang-senang di lapangan dengan bola. Bermain dengan teman-temannya. Dan yang paling penting, kami selalu menekankan kebersamaan,” kata pria yang akrab disapa Ayah Adee ini.

Kata Adee, mereka senantiasa mengajarkan anak-anak menjaga shalat lima waktunya. Itu paling utama. Hormati orang tua. Belajar yang rajin. Sopan santun. Menghargai teman. Setia kawan. Di lapangan dan luar lapangan, mereka satu. Bak ungkapan dalam bahasa latin; gen una sumus.

Memang, istilah yang identik dengan insan catur ini berarti, “kami adalah satu keluarga”. Ya, satu keluarga itulah yang terlihat dalam acara iftar skuat Jong Aceh FA yang berlangsung di Morden Cafee Pango, Banda Aceh, Selasa 4 April 2021.

Setidaknya ada 85 pemain dari tim U-10 hingga U-17 Jong Aceh hadir mengikuti iftar. Mereka mengenakan baju berwarna putih. Mereka duduk rapi seusai dengan tingkatan usia masing-masing. Ada empat meja panjang yang dijejer. Mereka semua duduk di sana menanti berbuka.

Melihat anak-anak bola ini, banyak harapan membuncah. Bila salah dalam mendidik tak terbayangkan nasib ke depan. Apalagi di tengah kepungan game online dan ragam permainan gawai lainnya. Belum lagi godaan negatif lingkungan. Kenakalan remaja dan buaian narkoba menjadi ujian banyak orang tua.

Dengan kegiatan positif seperti sepak bola, kita berharap bisa meredam serta ngerem gempuran di media sosial yang sebagian kadung minim manfaat. Harapan kita, kalau pun kelak tak semuanya menjadi pemain bola, minimal sudah hidup dalam kegiatan-kegiatan bermanfaat.

Kecuali rombongan pemain, ada jajaran manajemen Jong Aceh FA dan tim pelatih. Ada juga tamu khusus Teungku Jailani. Ia seorang keusyik (kepala desa) yang juga kerap mengisi mimbar Jumat. Terlepas ketokohannya di masyarakat, Teungku Jailani adalah pendukung fanatik Persiraja Banda Aceh. Anaknya juga ada dalam barisan Jong Aceh FA.


Saya pribadi tak bisa akrab dengan Teungku Jailani. Tapi, ketika membahas topik sepak bola, langsung klop. Itu karena sepak bola cukup universal. Hal itu yang membuat orang-orang — termasuk saya — tertarik dengan sepak bola. Dia bisa menjadi tema obrolan paling jitu dalam bersosialisasi.

Sepak bola bisa menyatukan ragam perbedaan serta warna kulit. Saat berada di stadion semuanya bisa satu suara saat bola masuk ke gawang. Gooolll. Begitulah, prinsip gen una sumus juga terpatri di sini.

* Tulisan ini sudah tayang di Steemit untuk ikut kontes.

Balada 24 Menit Mantan Idola

Balada 24 Menit Mantan Idola



ADA nyanyian lantang yang menghilang dari fans setia Persiraja. Nyaris sepanjang musim ini, “Fahrizal Dilla… Fahrizal Dilla… kami haus golmu…, apa yang kau tunggu,” menjadi senyap. Padahal, chant itu acap terdengar beberapa tahun lalu. Kini, bunyi chant itu benar-benar padam.
 

Pria bertubuh jangkung ini adalah bomber mumpuni dalam beberapa tahun belakangan. Dia menjadi penggawa yahud di depan kotak penalti. Sepakannya deras dan keras. Lantas, lakab bintang tersemat pada sosok yang akrab dengan jersey 27 itu. 

Tapi, sial baginya, sejak penggantian pelatih, menit tampilnya pun menipis. Ya, musim ini menjadi semacam “puncak” karier baginya. Klimaks. Tak ada gol yang menghujam jala lawan seperti musim lalu. Sebab dia lebih banyak menjadi penghangat bangku cadangan. 

Sinyal kariernya bakal berakhir, tercium pada laga melawan Blitar Bandung United. Bermain di pekan ketujuh Liga 2 musim 2019, Persiraja Banda Aceh sukses mengeksekusi tamunya dengan skor 2-1. 

Selasa Malam 23 Juli 2019, seakan menjadi malam “permaluan” Fahrizal Dillah di depan publik Lampineung yang memadati Stadion H. Dimurthala. Pasalnya, dalam laga itu, sang bintang hanya tampil 24 menit saja. 

Suami dari Kartika Maharani ini baru dimasukkan pada menit 61. Ia menggantikan Irvan Yunus Movu. Masuknya mantan tandem Cristian Bekatal saat Persiraja dibesut Herry Kiswanto itu guna menambah intensitas serangan Lantak Laju. Makanya, saat itu, Nakata dkk bermain dengan dua striker sekaligus di lini depan; 4-4-2.

Nyatanya, perjudian yang dilakukan Hendri tidak berjalan sesuai rencana dan justru membuat Blitar berhasil menyamakan kedudukan. Gol itu pada menit 70, dan itu bukan kesalahan Dillah. 

Lalu, Persiraja kembali unggul di menit 78. Lantas tim pelatih sepakat untuk kembali menarik Dillah guna mengamankan kemenangan.  “Makanya kita sepakat, kita bikin taktik ganti lagi Dillah, masukin (Fery) Komul,” jelas dia. 

Alasannya, di beberapa menit akhir, Persiraja memakai dua gelandang bertahan sehingga hasilnya memang tidak ada lagi peluang-peluang berbahaya dari lawan. 

Memang, Hendri Susilo tak layak disalahkan. Dia memilih pemain yang siap sesuai dengan taktik yang sudah dia racik. “Saya harap Dillah (Fahrizal) bermain seperti di latihan. Ternyata tidak seperti yang saya harapkan,” tukas Hendri kepada awak media. 

“Malam ini secara tim (permainan) terburuk Persiraja menurut saya. Tapi dalam sepakbola yang penting hasilnya, yang penting kita menang,” ujar Pelatih Persiraja, Hendri Susilo, usai pertandingan.

Namun Hendri tidak menyalahkan pemain atas permainan buruk yang ditampilkan. Ia menilai wajar pemainnya bermain buruk setelah menjalani enam laga sebelumnya dengan intensitas tinggi dan tantangan yang berbeda.  

Balada tentang Dillah tak berakhir sampai di situ. Bahkan ketika menjawab pertanyaan media dalam sesi jumpa pers sebelum laga lawan Persibat Batang, Hendri Susilo bilang begini.

“Saya jelaskan, dia (Fahrizal) indisipliner. Saya bawa ke tur tak mau, pemain cedera, dia saya panggil tak mau, why…? Itu berarti hatinya sudah nggak di…,” tukas mantan pelatih Persisam era ISL yang sengaja menggantung ucapannya. 

Fahrizal sendiri tak ingin memperpanjang polemik. Putra Ubaydillah dan Rusbayani ini memilih kalem. Dia mengaku mungkin saat ini bukan “rezekinya” di Persiraja. 

Memang, terlepas dari segala drama yang sedang mendera pemain kelahiran 14 April 1990. Sokongan semangat datang dari para pendukung Lantak Laju. 

“Tetap semangat abang, semangat pantang menyerah demi menggapai cita-cita abang. Pohon yang tinggi akan semakin kencang pula angin di atasnya,” tulis M Reza Saputra.

“Kata-kata ini akan melekat sampai kapan pun bagi kami Skullers dan pecinta Persiraja!. Karena kita pernah berjuang bersama-sama menuju kasta tertinggi Indonesia,”

Sementara akun resmi Skull juga ikut memberi support kepada idolanya. “Terima kasih atas dedikasimu predator, sejarah akan selalu mengenangmu. Semoga ke depan kita bisa berjuang bersama lagi.” Semoga!. 
Fachri Husaini, Maestro dari Pabrik Pupuk

Fachri Husaini, Maestro dari Pabrik Pupuk




Tim Nasional Indonesia usia U-18 berhasil merebut posisi tiga Piala AFF U-18 2019. Keberhasilan itu tak terlepas dari racikan Fachri Husaini. Meski belum berhasil menjadi kampiun, tapi kiprah Garuda Muda patut diapreasiasi. Lalu, siapa dia. 

Pelatih Timnas U-19 ini akrab disapa Fachri. Dia pria kelahiran 27 Juli 1965 di  Lhokseumawe, Aceh. Saat masih bermain, Fachri adalah seorang maestro lini tengah pada era 1990-an. Ban kapten selalu tersemat pada dirinya.

Pada era tersebut, Fachri juga dikenal sebagai bintang tim nasional Indonesia. Tugasnya mengatur irama permainan timnya. Posisinya gelandang. Bukan cuma di timnas, di klub yang pernah dibelanya, ia juga beroprasi sebagai seorang playmaker.

Dalam ranah sepakbola, ia lebih identik dengan tim Pupuk Kaltim karena sembilan musim dia membela PKT (1992-2001). Namun prestasi terbaik Fachry bersama PKT hanyalah finalis Liga Indonesia pada musim 1999/2000. Sebelumnya, ia memperkuat Petrokimia (sekarang menjadi Gresik United), Lampung Putera, dan Bina Taruna. 

Pada tahun 1997, ia tampil membela timnas Indonesia pada ajang SEA Games 1997 di Jakarta. Indonesia yang ketika itu dilatih Henk Wullems bertemu dengan Thailand dalam perebutan medali emas. Sayang, Indonesia gagal di final melawan Thailand. Garuda kalah adu penalti. Fachri sudah menampilkan performa terbaiknya dalam laga itu. 

Menjadi pelatih

Usai puas menjadi pemain. Akhirnya Fachri mengikuti kursus kepelatihan. Ia mengantongi sertifikat C-1. Sempat menjadi pelatih Diklat Manado dan asisten pelatih Bontang, akhirnya ia ditunjuk sebagai asisten pelatih Timnas U-23 dan Timnas senior tahun 2004. 

Saat itu Fachri menimba ilmu langsung dari pelatih timnas Peter Withe. 
Hal itu pula yang membuat dirinya ditunjuk menjadi pelatih Tim PON XVII oleh tuan rumah Kaltim tahun 2008.

Tim racikan Fachri hanya berhasil menjadi juara ketiga saat mengikuti PON XVII di Kaltim. Kondisi tersebut membuat pihak Bontang FC tertarik dan langsung merekrutnya sebagai pelatih kepala. 

Di sini, Fachri hanya membuat Bontang FC tampil menempati posisi 11 dan 13 klasemen dalam dua tahun bergulirnya Liga Super Indonesia. Ia memang dikenal sebagai sosok pelatih yang potensial. 

Kompetisi ISL musim 2010/11 ia memang gagal menyelamatkan Bontang FC dari degradasi. Namun, dedikasi yang diberikannya terhadap klub patut diacungi jempol. 

Di saat krisis keuangan mendera klub dan pembayaran gaji para pemain yang terkatung-katung selama berbulan-bulan, Fachri Husaini tetap setia bersama klub.    

Pada tahun 2014, Fachri ditunjuk oleh PSSI untuk menangani Timnas U-17 dan tahun berikutnya ia menjabat pelatih Timnas U-19. Kegigihannya menjadi pelatih, Fachri Husaini kembali diminta menangani Timnas U-16. 

Fachry mulai memberi bukti. Ia berhasil mengantarkan Timnas Indonesia juara pada turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017 yang digelar di Vietnam. Tak hanya juara, Timnas juga menyabet penghargaan lainya. Pemain terbaik (Hamsah Lestaluhu), top skor (Rendy Juliansyah), pelatih terbaik (Fachri Husaini), dan tim paling fair play. 

Dengan keberhasilan ini, banyak pecinta sepakbola tanah air berharap pada pria 51 tahun ini dapat membawa Indonesia juara pada turnamen Piala AFF U-16 2017 di Thailand. 

Mundur 

Sebelum juara di Negeri Gajah Putih, sebenarnya pada akhir April 2016, pria berkepala plontos ini sempat mundur dari dunia sepak bola. Ia ingin fokus pada keluarga serta pekerjaannya di PT Pupuk Kaltim, Bontang.

Ini terjadi akibat Fachri kecewa pada sepak bola Indonesia yang kala itu karut-marut. Akibat situasi yang memanas antara Menpora RI dan PSSI, sanksi FIFA pun jatuh pada akhir Mei 2015. Imbasnya, timnas U-16 dan U-19 yang sudah dilatih Fachri untuk Piala AFF U-16 dan U-19 2015, dibubarkan, karena timnas dilarang beraktivitas di kancah sepak bola internasional. Kondisi ini membuat dia amat kecewa. 

Sanksi FIFA dicabut pada 13 Mei 2016. Fachri tak bergeming. Timnas pun dilatih Eduard Tjong untuk tampil di Piala AFF U-19 2016. Akhir, dia bersedia kembali aktif di sepak bola Indonesia dengan menerima penunjukkan dirinya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia U-16. 

Selain itu kondisi sepak bola di Tanah Air yang makin kondusif ikut memperkuat niat Fachri kembali ke pentas sepak bola negeri ini. Meski sudah menerima tawaran jadi pelatih Timnas Indonesia U-16 lagi, Fachri mengaku masih memiliki ganjalan. Apalagi bila bukan terkait urusan pekerjaannya di PT Pupuk Kaltim.

Sebagai karyawan, Fachri Husaini menyebut tidak bisa meninggalkan tugas dan kewajibannya di PT Pupuk Kaltim, meski beberapa opsi dimilikinya. Ia kemudian, berkonsultasi dengan keluarga untuk mengambil keputusan terbaik. Ia melatih lagi hingga kini. [dari berbagai sumber]
(3 September) Sempat Ditolak, Akhirnya United Diterima Juga

(3 September) Sempat Ditolak, Akhirnya United Diterima Juga

Logo Manchester United
Pada 3 September 1892, Manchester United mengadakan pertandingan pertamanya dalam ajang Football League. Dalam pertandingan tersebut, mereka kalah oleh Blackburn Rovers dengan skor 4-3. 

Meski pada akhirnya musim perdana United dalam ajang Football League tak seburuk hasil yang mereka raih dalam pertandingan pertama dalam ajang yang sama, United sekarang bukanlah United yang dulu.

Untuk musim pertama di Football League ini, mereka masih memakai nama pertama mereka, Newton Heath. Didirikan pada 1878, Newton Heath, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Manchester United, mencoba untuk ikut dalam ajang Football League yang didirikan pada 1888. Namun, selama empat tahun sampai 1892, mereka selalu ditolak dan tidak dibolehkan ikut dalam ajang Football League.

Akhirnya, pada musim 1892/1893, mereka diizinkan untuk ikut ajang Football League, dan menghadapi pertandingan pertama melawan Blackburn Rovers pada 3 September 1892. Namun, dalam musim pertama mereka di Football League ini, mereka tidak meraih prestasi yang terlalu bagus.

Usai kalah dari Blackburn, Newton Heath sama sekali tidak meraih kemenangan dalam lima pertandingan setelahnya, berlanjut dengan tiga kekalahan beruntun dalam pertandingan selanjutnya. Alhasil, Newton Heath harus puas mengakhiri musim di peringkat ke-12. Mereka mampu menghindari jerat degradasi usai mengalahkan Small Heath FC (cikal bakal Birmingham City FC) dalam babak playoff.

Musim selanjutnya, mereka akhirnya harus terdegradasi ke Divisi Kedua. Mereka berada di sana selama beberapa tahun sebelum akhirnya mampu naik level lagi ke Divisi Pertama pada 1906, untuk kemudian menjuarai Divisi Pertama Football League pada 1908.

Sekarang, koleksi gelar United sudah sedemikian banyak, dan menjadi salah satu klub tersukses di Inggris selain Liverpool. Sempat ditolak, lalu diterima, sekarang menjadi sukses.

Sumber: http://panditfootball.com
Video: Gol-gol Thailand ke Gawang Myanmar

Video: Gol-gol Thailand ke Gawang Myanmar



Twitter
Thailand tanpa kesulitan berarti mengandaskan Myanmar di laga leg ke-2 semifinal Piala AFF 2016, Kamis (8/12/2016) malam ini. Bermain di depan suporternya, Thailand mencukur Myanmar 4 gol tanpa balas. Gol-gol Thailand di laga ini dilesak oleh S. Masuk 33′, T. Bunmathan 65′, S. Chatthong 76′, C. Songkrasin 83′.

Berikut ini videonya:
Tour Manchester United Ke China

Tour Manchester United Ke China

Kru Manchester United berdiri di tangga pesawat
Jadwal Tour Pramusim MU, Manchester United akan menjalani tur pra musimnya di Tiongkok atau China. 

Bersama pelatih baru, MU akan menhadapi Borussia Dortmund dan juga Manchester City pada laga yang digelar mulai hari Jum’at (22/7/2016) ini.


Manchester United juga sudah mengumumkan secara resmi melalui akun twitter mereka daftar pemain yang dibawah ke Tour Pramusim ini.

Pada Tour kali ini Manchester United masih belum membawa pemain barunya, Zlatan Ibrahimovic. Pemain asal Swedia tersebut tidak ikut Tour MU ke Asia lantaran masih liburan Pra Musim. Memang Ibra mendapat liburan yang lebih panjang dari manajemen setan merah setelah dirinya bermain untuk Swedia di ajang Piala Eropa 2016.

Tour Pramusim Manchester United kali ini diperkuat beberapa pemain barunya seperti Henrikh Mkhitaryan dan Eric Baill. Kedua pemain anyar tersebut dipastikan akan tampil pada tour kali ini, karena Jose Mourinho pastinya ingin melihat performa kedua pemain setelah didatangkannya pada bursa transfer musim ini.

Pada Tour Pramusim ini Manchester United mendapatkan lawan yang tidak mudah, karena Manchester City yang dilatih Pep Guardiola pastinya akan tampil maksimal karena pertandingan derby Manchester merupakan pertandingan yang sangat bergengsi apalagi kedua pelatih kota Manchester ini juga baru menangani klub masing masing pada musim ini. Untuk Anda yang ingin melihat Jadwal Tour Pramusim Manchester United, berikut ini detailnya.

Jadwal Tour Pramusim Manchester United :

22 Juli 2016

Manchester United vs Borussia Dortmund (International Champions Cup – Shanghai Stadium, Shanghai)
25 Juli 2016

Manchester United vs Manchester City (International Champions Cup – Bird’s Nest Stadium, Beijing)
30 Juli 2016

Manchester United vs Galatasaray (International Champions Cup – Ullevi, Gothenburg) 6.30pm
3 Agustus 2016
Manchester United vs Everton (Wayne Rooney testimonial – Old Trafford) 8pm
7 Agustus 2016
Manchester United vs Leicester City (Community Shield – Wembley)

 Khuwailid, Talenta Aceh Yang Bersinar di Qatar

Khuwailid, Talenta Aceh Yang Bersinar di Qatar

Khuwailid Mustafa
TALENTA sepakbola turunan Aceh kembali bikin cerita menarik di negeri orang. Kali ini, dari bumi Qatar, nama Aceh kembali bergetar melalui sosok pemain bola. Dia adalah Khuwailid Mustafa (15), pemain berdarah Pidie yang lahir di Lhokseumawe.

Ayah Khuwailid, Mustafa Ibrahim ketika dihubungi Waspada melalui jejaring sosial belum lama ini mengatakan, kini anaknya bermain di salah satu klub terkenal Qatar, Lekhwiya Sport Club.

Disebutkannya, cerita Khuwailid masuk Qatar karena, Mustafa dan keluarga hijrah ke negara itu pada akhir Juni 2000. "Saat itu Khuwailid masih berumur lima bulan," ujar Mustafa yang menyebutkan, sang anak lahir pada 29 Januari 2000 itu.

Mustafa Ibrahim yang beristrikan Yulidar Syasuddin berasal dari Pidie, Sigli. Dia bekerja di salah satu perusahan di daerah setempat. Di Qatar, Mustafa dan keluarganya tinggal di komplek perumahan perusahaan Al Khor Housing Community-Qatar.

Di komplek inilah Khuwailid bersekolah dan mulai menyalurkan hobinya sebagai pemain bola. Disebutkan, pada tahun 2007, Khuwailid yang sudah telah berusia tujuh tahun mulai ikut latihan sepakbola bersama pelatih Muhammad Yunus Bani di komplek perumahan tempat di mana dia tinggal.

Karena sejak kecil prestasi Khuwailid kelihatan cukup menonjol maka ada beberapa club di Qatar menawarkan untuk ikut bergabung dengan klub mereka. Pada Januari 2008 Khuwailid ikut bergabung dengan Al Khor Sport Club.

Usai beberapa bulan latihan bersama klub, ia merasa tidak nyaman dengan klub tersebut, akhirnya Khuwailid Mustafa memutuskan untuk keluar dan kembali berlatih di komplek tempat dia tinggal.

Pada 31 Desember 2010 Khuwailid bersama timnya meraih juara satu 1st AKC Interclub di Qatar dan ia mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik. Pada saat itulah dua klub ternama di Qatar yaitu Lekhwiya Sport Club dan Al Gharafa Sport Club menawarkan kembali kepada Khuwailid Mustafa untuk segera bergabung dengan klub mereka.

Kata Mustafa, setelah penuh pertimbangan, akhirnya Khuwailid memutuskan untuk bergabung dengan Lekhwiya Sport Club. Setelah ikut bergabung dengan Lekhwiya Sport Club, Khuwailid di percaya sebagai kapten tim.

Pada Maret 2011, Khuwailid mulai mengikuti Qatar Star League yang diikuti 14 klub. Di Liga Qatar U-11 ini lagi-lagi Khuwailid menunjukkan bakatnya. "Itu Liga perdana Khuwailid," ujar sang ayah.

Dan Alhamdulillah, sambung Mustafa, tim yang dibela Khuwailid menduduki peringkat kedua diakhir kompetisi. Ternyata, prestasi apik ini mencuri perhatian dari pengurus Qatar Football Association (QFA).

Sejak tahun 2011 Khuwailid, bergabung dengan Lekhwiya Sport Club dan training di Aspire Academy seminggu lima kali. Masuknya Khuwailid ke Aspire Academy Qatar setelah mendapat rekom dari manajer klub yang menyarankan dia bergabung dan mengikuti training di lembaga itu.

Sebelum Khuwailid, pemain berdarah Aceh lainnya yang lebih dulu berkiprah di negara Timur Tengah itu adalah Syahrizal Mursalin Agri. Dia tercatat bermain di klub asal Qatar, Al-Khor Sports Club.

Syahrizal Mursalin Agri yang kelahiran Lhokseumawe, 8 Agustus 1992 tersebut, sudah berkiprah di tim junior Al-Khor sejak 2009. Ia kini jadi salah satu pemain tim senior klub yang merupakan salah satu kontestan kompetisi kasta tertinggi, Qatar Stars League.

Ayah dari pemain yang akrab disapa Farri ini, Agri Sumara sudah bertahun-tahun tinggal di Qatar. Ia bekerja di sebuah perusahaan minyak di negara tersebut. Talenta Farri ditempa di ASPIRE Academy for Sports Excellence di Doha, sebuah sekolah olahraga milik pemerintah Qatar yang membina atlet-atlet berbakat.

Saat di Aspire, Farri sempat menjalani trial di klub Inggris, Bolton Wanderers pada usia 17 tahun. Selain sebagai pemain bola, Farri juga kuliah di Universitas Stenden, Doha, Qatar. Fans Lionel Messi itu mengambil jurusan International Business Management di sana. [a]
Mulyadi Terpaksa Menggantang Mimpi

Mulyadi Terpaksa Menggantang Mimpi

Mulyadi (kanan) | Foto: acehfootball.com/Eko Densa
MENCINTAI sepakbola tak cukup dengan bermodalkan semangat saja. Punya skill mumpuni belum tentu juga bisa unjuk diri, bila tanpa pihak lain. Tentu saja, tanpa sokongan pihak ketiga, semua berantakan.

Contoh yang sudah terbukti adalah bagaimana berantakannya kompetisi sepakbola di Indonesia setelah tanpa izin keramaian dari pihak keamanan. Izin tak keluar, akibat tanpa dukungan --lebih tepat dibekukannya-- PSSI oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Kasus yang nyaris serupa juga dialami seorang pemuda penuh talenta dari Aceh Jaya. Dia adalah pemain bola. Namanya Mulyadi. Umurnya baru 17 tahun. Dia lahir pada 2 Mei 1998 dari pasangan Anzarmi dan Siti Hasanah. Keluarganya korban tsunami.

"Saat tsunami saya masih berumur 7 tahun. Ibu, kakak dan abang-abang saya meninggal saat tsunami. Saya anak terakhir dari lima bersaudara. Kini, kami tinggal bertiga. Ayag, abang dan saya," cerita Mulyadi kepada Waspada, Minggu (6/9/2015).

Mulyadi masih duduk dikelas II SMA Negeri I Lamno. Seharusnya dia sudah kelas III tahun ini. "Saya tinggal kelas satu tahun, karena tidak sekolah akibat memperkuat tim Pra PON Remaja Aceh 2014," ujar dia.

Ceritanya, saat memperkuat tim sepakbola junior itu dia masih duduk dikelas satu. Dia tinggal kelas karena tak dapat dukungan dari sekolahnya, saat bergabung ke tim Pra PON Remaja Aceh pada tahun 2014.

Padahal, di tim Pra PON Remaja yang dilatih Akhyar Ilyas, Mulyadi didapuk sebagai kapten tim. Kerja kerasnya dan kolega nyaris saja berbuah tiket ke PON Remaja I di Surabaya. Namun, langkah itu terganjal di babak play off, setelah dikerjai tuan rumah Lampung.

Pulang membela nama daerah sampai keluar keringat darah, tak ada apresiasi atau pun dukungan dari banyak pihak. "Surat dispensasi dari PSSI setempat tidak diterima pihak sekolah. Karena tak ada dispensasi, saya dianggap absen," kenang dia.

Karena kondisi itulah dia pun dianggap tak sekolah atau mangkir dari kegiatan belajar mengajar. Akibatnya, saat menerima lapor dia divonis tak naik kelas. Praktis, kondisi ini membuat Mulyadi rugi. Karena sepakbola, dua tetap duduk dikelas dua.

Tim Pra PON Remaja bukan kiprah pertama pemuda kelahiran Gampong Krueng Tunong, Aceh Jaya ini. Dia pernah memperkuat tim Aceh U-21 pada 2013 saat menghadapi Timnas U-19 dalam Tur Nusantara Dua di Stadion Harapan Bangsa. Timnya kalah telah 0-4 dari anak asuh Indra Sjafri.

Kecintaan Mulyadi pada sepakbola tetap berlanjut, meski harus tinggal dibidang pendidikan. Kini, nama pemain belia Persijaya Aceh Jaya dan Lamno FC ini masuk dalam daftar 30 pemain yang lolos seleksi skuad tim Pra PON Aceh.

Ditilik dari segi usia, Mulyadi satu-satunya pemain yang masih berstatus siswa yang lolos seleksi. Padahal, pemain lain sebagian para profesional yang sudah kenyang asam garam di Divisi Utama dan Liga Super Indonesia.

Lolos seleksi membuat Mulyadi kembali girang bukan kepalang. Sedangkan ayahnya, Anzarmi tidak. Lantas dia pun memberi opsi. Pilih sepakbola dengan risiki tinggal kelas lagi atau pilih sepakbola? Berada di antara dua pilihan membuat hati pemain yang beroperasi di sayap kanan ini bimbang.
Vonis sang ayah sudah jelas, selesaikan sekolah. Karena memilih pesan orang tua, maka dengan berat hati dia mundur dari tim Pra PON Aceh. "Seleksi sudah lolos, tapi ayah tidak kasih izin lagi, karena kalau bisa bertahan di tim, harus libur sampai tiga bulan," ujar dia.

Karena pengalaman sebelumnya serta takut tinggal kelas lagi dan juga tak mendapat jaminan untuk kelangsungan pendidikan anaknya, maka sang ayah pun meminta anaknya tak ikut bergabung dengan Pelatda Pra PON Aceh 2015.

Mulyadi pun harus mengantung mimpinya untuk bisa memperkuat tim sepakbola Aceh. Pemain yang mengidolai Mesut Oezil dan Arsenal ini merasa sedih, kesempatan yang sudah terbuka membela tim Pra PON Aceh harus kandas.

Pun begitu, dia mengaku tetap mencintai sepakbola. Meski kesempatan sekarang terbuang percuma, dia memilih menuntaskan pendidikan lebih dulu sesuai dengan harapan sang ayah. "Sekarang saya fokus sekolah dulu," kata pemain yang kerap diorder sebagai pemain diklub-klub antar kampung.

Namun yang sangat disayangkan, potensi Mulyadi ini luput dari lirikan pengelola Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) Aceh yang dikelola Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh. Padahal, talentanya sudah teruji.

Seharusnya, dia bisa belajar di SMA 9 Banda Aceh, tempat para pemain PPLP Aceh bersekolah. Tapi nyatanya, Mulyadi masih tetap korban tsunami di Aceh Jaya yang tak mendapat kesempatan belajar gratis karena bakat sepakbolanya. Barangkali karena bukan anak pejabat ya...? Nasib-nasib. [a]
Hikayat Dimurthala

Hikayat Dimurthala

Ilustrasi
HUJAN mengguyur Lampineung di ujung pekan. Sebuah stadion berdiri angkuh di sana. Lapangan itu cukup punya nama di belantara sepak bola. Stadion H Dimurthala namanya. Dari situlah, nama Aceh bergemuruh menggetarkan jagat raya Indonesia.

Kini, stadion itu sepi, namun syukur belum menjadi tumpukan besi tua. Biasa isinya tetap "panas" meski diguyuri hujan. Sekarang sudah beda, karena tak terdengar teriakan, lantak laju... Kegaduhan seakan hilang ditimpa deru hujan.

Padahal dua bulan lagi, rumput lapangan itu harus hijau kembali. Karena kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia sudah menanti. Tepatnya, 19 Februari 2015. Sayangnya, roda Persiraja di kompetisi sudah tak "bergigi" lagi. Seakan kematian sudah menanti.

"Kalau kondisinya begini, sulit menyelamatkan Persiraja," tukas Asri Soelaiman, kepada saya baru-baru ini. Asri adalah bekas pejabat di Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh. Dia didapuk sebagai Ketua Umum Persiraja Banda Aceh sejak Agustus lalu.

Asri patut mengeluh. Sebab, selama memegang klub bekas juara Perserikatan era 1980-an ini, dia laksana memegang bara panas. Sebelum dia menerima jabatan itu, tak ada tokoh lain yang berani ambil risiko. Keuangan menjadii halangan besar. "Hana peng --tak ada duit," seru mereka.

Bukan saja tanpa dana, Pemerintah Kota Banda Aceh juga tak berani turun tangan. Padahal mereka masih tercatat sebagai "pemilik" sah. Karena ada aturan yang melarang dana pemerintah dipakai menghidupi klub profesional, maka selamatlah muka Walikota Banda Aceh dari "murka" pecinta bola.

"Dulu, biasanya Pemko memberi dana kepada Persiraja melalui APBD. Tapi sejak adanya larangan dari Menteri Dalam Negeri, mereka jadi tak peduli lagi dengan klub ini," keluh Asri lagi. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah atau APBD memang sudah diharamkan.

Larangan itu adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011. Inti dari edaran itu, melarang pemerintah daerah mengucurkan dana untuk klub-klub professional.

Satu-satunya cara menyelamatkan tim dan marwah sepak bola Aceh adalah dengan mencari sponsor. Namun, pihak ketiga tak serta merta bersedia merogok kocek. Banyak pertimbangan yang membuat kran duit tak terbuka.

Padahal dana pihak ketiga sangat diharapkan untuk menghidupi lagi klub dari jurang kematian. Sayang memang, mengingat makhluk bernama sponsor menjadi langka di tanah rencong. Mereka tak punya minat berinvestasi di olahraga.

Pengusaha-pengusaha di Aceh juga memilih jadi penonton saja. "Beda dengan Almarhum Dimurthala. Beliau sangat peduli dengan olahraga terutama sepak bola dan voli," puji Asri.

Mencari pengganti Dimurthala, tak ubahnya laksana menangkap ikan tanpa kail. Asri mengakui sulit mendapati sosok seperti Dimurthala di zaman sekarang. "Saya pikir tak ada tokoh lain yang punya kepedulian seperti Dimurthala," sambungnya.

Namun, Asri mengakui dalam diri Zainuddin Hamid punya hasrat yang sama untuk memajukan olahraga di Aceh. "Let Bugeh itu kawan dekat Dimurthala, keduanya pernah sama-sama membawa tim juara Persiraja," jelas dia.

Let Bugeh adalah panggilan akrab Zainuddin Hamid. Dia mantan Ketua Umum Komite Nasional Olahraga Nasional (KONI) Provinsi Aceh. "Kini Leg Bugeh pun sudah mulai tua, sudah lelah mengurus olahraga."

Kenapa Dimurthala?

Publik Banda Aceh pasti tahu Dimurthala yang namanya disemat pada sebuah stadion kebanggaan Persiraja. Namanya juga menempel di sepotong ruas jalan di Banda Aceh. Tepatnya di jalan menuju kantor KONI Aceh.

Kecuali kedua nama itu, namun, jarang yang tahu sepaktejang mantan pengusaha cengkeh ini. Perannya dalam membangun dunia olahraga di tanah rencong dianggap luar biasa.

"Sejak di tangan dia, sepakbola dan bola voli hidup di tempat kita," komentar Maulisman Hanafiah, mantan Wakil Ketua KONI Aceh periode 2010-2014.

Kata Maulisman, pada era Dimurthala-lah Persiraja Banda Aceh tampil sebagai juara Perserikatan PSSI tahun 1980. Di partai final Persiraja mempercundangi Persipura Jayapura dengan skor 3-1 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

"Beliau manajernya. Saat itu Let Bugeh wakil manajer. Keduanya saling bahu membahu menghidupkan olahraga di Banda Aceh, khususnya," ujar dia menyirat kagum.

Memang, menjadi juara nasional kala itu bukan langkah mudah bagi pilar Aceh. Bustaman dkk harus ditempa dengan berbagai latihan fisik dan taktik. Bahkan, Dimurthala pula yang menjadi manajer pertama Persiraja memakai dana pribadi untuk mengontrak pelatih asing Andrew Yap, yang berasal dari Singapura.

Pemain Laskar Rencong kali itu begitu dimanjakan Dimurthala. Mereka bahkan menjalani latihan di luar negeri. Sesuatu yang jarang dirasakan pemain Persiraja selama ini. "Kualitas jersey yang kami pakai saat itu sama seperti yang dipakai klub-klub Eropa," kenang M Daan, legenda hidup Persiraja.

Pria berpostur besar ini semasa mudanya dikenal punya tendangan super geledek. Dia juga mengaku termasuk pemain "jahil" di antara rekan-rekannya, namun dia sangat disukai manajer, serta seluruh skuad.

Kata M Daan, kebersamaan itulah yang menjadi kunci sehingga mereka bisa berprestasi. "Perhatian manajer (Dimurthala) kepada tim cukup bagus. Dia tak segan-segan merogoh kocek pribadi untuk pemain, terutama mengobati mereka yang sedang sakit," ungkap M Daan.

Pria yang berposisi sebagai gelandang serang saat masih aktif bermain ini mengatakan, dirinya punya kesan mendalam dengan Dimurthala. Kata M Daan, pada suatu ketika dia nyaris membatalkan ikut tim tur ke Sumatera Utara, karena isterinya sedang sakit.

Tahu orang yang dicintai pemainnya sedang sakit, atas inisiatif sendiri, Dimur-- begitu panggilan akrabnya --langsung mendatangi rumah M Daan. Sang isteri pun saat itu juga dibawa ke rumah sakit Zainal Abidin untuk diobati.

Dalam pikiran M Daan, sang manajer tak ingin masalah keluarga mengganggu penampilan pemainnya di lapangan. Akhirnya terbukti, timnya yang tampil kompak malah berhasil menang pada laga eksebisi tersebut.

"Secara pribadi saya berhutang budi dengan beliau. Secara tim atau pun tokoh olahraga, beliau sangat pantas menjadi panutan. Dedikasinya tak perlu diragukan lagi, sudah terbukti. Puluhan karung cengkeh dijualnya untuk menghidupi olahraga di Aceh," urai M Daan panjang lebar.

Itu pula yang membuat pria berkulit gelap ini berani bertaruh, hingga kini Aceh belum punya sosok semacam Dimurthala. "Sulit mencari orang yang ikhlas dan tulus seperti Pak Dimur," ucap pensiunan pegawai negeri ini.

Asri Soelaiman, Maulisman Hanafiah dan M Daan punya pandangan yang sama dalam mengomentari sosok idola ini. "Saya berani bertaruh, kalau Dimur masih hidup, Persiraja dan mungkin saja cabang olahraga yang lain tak akan seperti ini," tukas Asri.

Makanya Asri amat merindukan lahirnya pengganti Dimurthala di Aceh. Dia berharap sepatutnya ada pengusaha sekarang yang mengikut jejak lelaki kelahiran Pelanggahan, Banda Aceh itu. Dimur sendiri wafat pada suatu hari di tahun 1986. Dia pengusaha yang juga cinta olahraga.

"Untuk membangkitkan kembali gairah olahraga, perlu peran masyarakat, dalam hal ini pengusaha yang bersedia menjadi bapak angkat. Kalau tidak ya, akan seperti ini terus nasib kita. Tidak dapat sponsor, tak ada dana," ulas Asri.

Maulisman juga mengakui, tak mungkin berharap terlalu banyak pada pemerintah. "Masyarakat pengusaha juga patut turun tangan untuk mengairahkan kembali olahraga kita. Ini yang tak ada sekarang di Aceh," ungkap dia. "Padalah kita merindukan orang macam Dimurthala."