Fachri Husaini, Maestro dari Pabrik Pupuk

Fachri Husaini, Maestro dari Pabrik Pupuk




Tim Nasional Indonesia usia U-18 berhasil merebut posisi tiga Piala AFF U-18 2019. Keberhasilan itu tak terlepas dari racikan Fachri Husaini. Meski belum berhasil menjadi kampiun, tapi kiprah Garuda Muda patut diapreasiasi. Lalu, siapa dia. 

Pelatih Timnas U-19 ini akrab disapa Fachri. Dia pria kelahiran 27 Juli 1965 di  Lhokseumawe, Aceh. Saat masih bermain, Fachri adalah seorang maestro lini tengah pada era 1990-an. Ban kapten selalu tersemat pada dirinya.

Pada era tersebut, Fachri juga dikenal sebagai bintang tim nasional Indonesia. Tugasnya mengatur irama permainan timnya. Posisinya gelandang. Bukan cuma di timnas, di klub yang pernah dibelanya, ia juga beroprasi sebagai seorang playmaker.

Dalam ranah sepakbola, ia lebih identik dengan tim Pupuk Kaltim karena sembilan musim dia membela PKT (1992-2001). Namun prestasi terbaik Fachry bersama PKT hanyalah finalis Liga Indonesia pada musim 1999/2000. Sebelumnya, ia memperkuat Petrokimia (sekarang menjadi Gresik United), Lampung Putera, dan Bina Taruna. 

Pada tahun 1997, ia tampil membela timnas Indonesia pada ajang SEA Games 1997 di Jakarta. Indonesia yang ketika itu dilatih Henk Wullems bertemu dengan Thailand dalam perebutan medali emas. Sayang, Indonesia gagal di final melawan Thailand. Garuda kalah adu penalti. Fachri sudah menampilkan performa terbaiknya dalam laga itu. 

Menjadi pelatih

Usai puas menjadi pemain. Akhirnya Fachri mengikuti kursus kepelatihan. Ia mengantongi sertifikat C-1. Sempat menjadi pelatih Diklat Manado dan asisten pelatih Bontang, akhirnya ia ditunjuk sebagai asisten pelatih Timnas U-23 dan Timnas senior tahun 2004. 

Saat itu Fachri menimba ilmu langsung dari pelatih timnas Peter Withe. 
Hal itu pula yang membuat dirinya ditunjuk menjadi pelatih Tim PON XVII oleh tuan rumah Kaltim tahun 2008.

Tim racikan Fachri hanya berhasil menjadi juara ketiga saat mengikuti PON XVII di Kaltim. Kondisi tersebut membuat pihak Bontang FC tertarik dan langsung merekrutnya sebagai pelatih kepala. 

Di sini, Fachri hanya membuat Bontang FC tampil menempati posisi 11 dan 13 klasemen dalam dua tahun bergulirnya Liga Super Indonesia. Ia memang dikenal sebagai sosok pelatih yang potensial. 

Kompetisi ISL musim 2010/11 ia memang gagal menyelamatkan Bontang FC dari degradasi. Namun, dedikasi yang diberikannya terhadap klub patut diacungi jempol. 

Di saat krisis keuangan mendera klub dan pembayaran gaji para pemain yang terkatung-katung selama berbulan-bulan, Fachri Husaini tetap setia bersama klub.    

Pada tahun 2014, Fachri ditunjuk oleh PSSI untuk menangani Timnas U-17 dan tahun berikutnya ia menjabat pelatih Timnas U-19. Kegigihannya menjadi pelatih, Fachri Husaini kembali diminta menangani Timnas U-16. 

Fachry mulai memberi bukti. Ia berhasil mengantarkan Timnas Indonesia juara pada turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017 yang digelar di Vietnam. Tak hanya juara, Timnas juga menyabet penghargaan lainya. Pemain terbaik (Hamsah Lestaluhu), top skor (Rendy Juliansyah), pelatih terbaik (Fachri Husaini), dan tim paling fair play. 

Dengan keberhasilan ini, banyak pecinta sepakbola tanah air berharap pada pria 51 tahun ini dapat membawa Indonesia juara pada turnamen Piala AFF U-16 2017 di Thailand. 

Mundur 

Sebelum juara di Negeri Gajah Putih, sebenarnya pada akhir April 2016, pria berkepala plontos ini sempat mundur dari dunia sepak bola. Ia ingin fokus pada keluarga serta pekerjaannya di PT Pupuk Kaltim, Bontang.

Ini terjadi akibat Fachri kecewa pada sepak bola Indonesia yang kala itu karut-marut. Akibat situasi yang memanas antara Menpora RI dan PSSI, sanksi FIFA pun jatuh pada akhir Mei 2015. Imbasnya, timnas U-16 dan U-19 yang sudah dilatih Fachri untuk Piala AFF U-16 dan U-19 2015, dibubarkan, karena timnas dilarang beraktivitas di kancah sepak bola internasional. Kondisi ini membuat dia amat kecewa. 

Sanksi FIFA dicabut pada 13 Mei 2016. Fachri tak bergeming. Timnas pun dilatih Eduard Tjong untuk tampil di Piala AFF U-19 2016. Akhir, dia bersedia kembali aktif di sepak bola Indonesia dengan menerima penunjukkan dirinya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia U-16. 

Selain itu kondisi sepak bola di Tanah Air yang makin kondusif ikut memperkuat niat Fachri kembali ke pentas sepak bola negeri ini. Meski sudah menerima tawaran jadi pelatih Timnas Indonesia U-16 lagi, Fachri mengaku masih memiliki ganjalan. Apalagi bila bukan terkait urusan pekerjaannya di PT Pupuk Kaltim.

Sebagai karyawan, Fachri Husaini menyebut tidak bisa meninggalkan tugas dan kewajibannya di PT Pupuk Kaltim, meski beberapa opsi dimilikinya. Ia kemudian, berkonsultasi dengan keluarga untuk mengambil keputusan terbaik. Ia melatih lagi hingga kini. [dari berbagai sumber]
(3 September) Sempat Ditolak, Akhirnya United Diterima Juga

(3 September) Sempat Ditolak, Akhirnya United Diterima Juga

Logo Manchester United
Pada 3 September 1892, Manchester United mengadakan pertandingan pertamanya dalam ajang Football League. Dalam pertandingan tersebut, mereka kalah oleh Blackburn Rovers dengan skor 4-3. 

Meski pada akhirnya musim perdana United dalam ajang Football League tak seburuk hasil yang mereka raih dalam pertandingan pertama dalam ajang yang sama, United sekarang bukanlah United yang dulu.

Untuk musim pertama di Football League ini, mereka masih memakai nama pertama mereka, Newton Heath. Didirikan pada 1878, Newton Heath, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Manchester United, mencoba untuk ikut dalam ajang Football League yang didirikan pada 1888. Namun, selama empat tahun sampai 1892, mereka selalu ditolak dan tidak dibolehkan ikut dalam ajang Football League.

Akhirnya, pada musim 1892/1893, mereka diizinkan untuk ikut ajang Football League, dan menghadapi pertandingan pertama melawan Blackburn Rovers pada 3 September 1892. Namun, dalam musim pertama mereka di Football League ini, mereka tidak meraih prestasi yang terlalu bagus.

Usai kalah dari Blackburn, Newton Heath sama sekali tidak meraih kemenangan dalam lima pertandingan setelahnya, berlanjut dengan tiga kekalahan beruntun dalam pertandingan selanjutnya. Alhasil, Newton Heath harus puas mengakhiri musim di peringkat ke-12. Mereka mampu menghindari jerat degradasi usai mengalahkan Small Heath FC (cikal bakal Birmingham City FC) dalam babak playoff.

Musim selanjutnya, mereka akhirnya harus terdegradasi ke Divisi Kedua. Mereka berada di sana selama beberapa tahun sebelum akhirnya mampu naik level lagi ke Divisi Pertama pada 1906, untuk kemudian menjuarai Divisi Pertama Football League pada 1908.

Sekarang, koleksi gelar United sudah sedemikian banyak, dan menjadi salah satu klub tersukses di Inggris selain Liverpool. Sempat ditolak, lalu diterima, sekarang menjadi sukses.

Sumber: http://panditfootball.com
Farid, Tokoh Bersahaja dari Pidie Untuk Kutaraja

Farid, Tokoh Bersahaja dari Pidie Untuk Kutaraja

Ust Farid Nyak Umar dan Hj Illiza | Foto via habadaily.com
FARID Nyak Umar adalah tokoh muda yang sudah tak asing lagi di Banda Aceh. Selain dikenal sebagai ustazd yang acap mengisi khutbah Jumat di masjid-masjid, Farid juga dikenal sebagai pribadi yang bersahaja.

Tokoh politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Banda Aceh ini, dikenal sebagai pribadi yang bersih dan santun. Pekerja keras serta giat membela kepentingan masyarakat. Terakhir, beliau adalah Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh.

Perjalanan karier politik pria kelahiran Yaman Barat, Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie pada 30 Juni 1978 ini begitu apik. Ia pernah menjadi anggota dewan di usia yang masih belia. Ya, Farid Nyak Umar pernah menjadi wakil rakyat di DPRK Banda Aceh saat ia berumur 24 tahun, tepatnya pada pemilu 2004 sebelum Tsunami.

Dan Farid Nyak Umar juga sebagai salah seorang anggota dewan, bersama dengan Pemko Banda Aceh terlibat secara langsung dalam penataan kembali Kota Banda Aceh saat itu, khususnya yang berkaitan dengan tugasnya sebagai wakil rakyat.

Dengan segudang pengalaman. Maka tak heran Farid memahami persoalan Banda Aceh secara baik, sampai saat ini. Dari persoalan terkait kualitas pelayanan publik di Banda Aceh, PDAM, Kemacetan, PLN, Pendidikan, Kesehatan hingga persoalan-persoalan sosial.

Bila sempat berdiskusi dengan Farid, maka anda akan melihat cakrawala dan wawasan Farid yang luas seputar kota Banda Aceh dengan segala dinamikanya. Maka tidak heran, jika ia sangat paham.

Alhamdulillah, kiprah panjang inilah yang kemudian membawanya mendapat kepercayaan masyarakat agar ia bisa terlibat langsung dan lebih jauh dalam mengurus kepentingan publik.

Lantas karena itulah, Farid mendapat kepercayaan untuk mendampingi Hj Illiza Sa’aduddin Djamal sebagai calon Wakil Walikota Banda Aceh untuk periode 2017-2022.

Sebagai pribadi berakhlakul karimah, Farid Nyak Umar lahir dari keluarga yang berpendidikan. Orang tuanya H Nyak Umar Hasan dan Hj Johari Abdullah menempatkan pendidikan dan hubungan sosial (silaturrahmi) dalam koridor tertinggi.

Farid anak ketujuh dari 11 bersaudara yang sejak kecil mengenyam pendidikan di SD Negeri No. 3 Beureunuen Kec. Mutiara. Di sekolah yang dikenal dengan nama SD Boh Itek ini, Farid langganan juara kelas.

Bio Data
Nama Lengkap                                  : Farid Nyak Umar, ST
Tempat/Tgl Lahir                              : Yaman Barat, Beureunuen, Pidie 20 Juni 1978
Pekerjaan                                           : Mantan Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh
Nama Orang Tua                              :
1.            Ayah                                   : H Nyak Umar Hasan (Alm)
2.            Ibu                                      : Hj Johari Abdullah (AA)
Saudara Kandung                             :  Azhar NU, Sri Suryani, Muhammad Iqbal, Sri Evi NU, Mutia NU, Taufik NU, Azizah, Putri Chairani, Baihaqi, Maisarah

Riwayat Pendidikan

SD Negeri No. 3 Beureunuen Kec. Mutiara Kab. Pidie
SMP Negeri Beureunuen, Kec. Mutiara, Kab. Pidie
SMA Negeri 3 Banda Aceh
S1 : Fakultas Teknik Unsyiah Jurusan Teknik Sipil, Bidang Studi Hidroteknik
S2 : Program PPS Unsyiah Prodi Magister Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP)

Riwayat Organisasi

Wakil Ketua Umum DPD PKS Kota B.Aceh (2010-2015)
Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Kota B. Aceh (2012-2014)
Sekretaris Komisi C DPRK Banda Aceh (2007-2009)
Sekretaris Fraksi PKS DPRK Banda Aceh (2007-2009)
LPPD Al-Ishlah Kota B.Aceh (Muballigh/2000-sekarang)
Kabid BAPILU DPD PKS Kota Banda Aceh (2005-2006)
Kabid LMT TRUSTCO Kota Banda Aceh (2003-2005)
Ketua DPC Partai Keadilan  Kec. Syiah Kuala (2001-2003)
Kabid Kaderisasi DPRa Jeulingke, Syiah Kuala (1999-2001)
Ketua DPC PKS Kecamatan Syiah Kuala (2003-2005)
Kaderisasi KAMMI Aceh (2000-2002)
Presidium Puskomda FSLDK Aceh (2000-2001)
Presidium Puskomda FSLDK Aceh (2000-2001)
Sekum Himpunan Mahasiswa Hidroteknik FT USK (2000-2001)
Ketua Umum FUAT LDK Fakultas Teknik Unsyiah (1999-2000)
Kabid Kerohanian BEM Fakultas Teknik Unsyiah (1999-2000)
Kabid Kreatifitas Mushalla Al-Hadid FT Unsyiah (1998-1999)
Direktur TPA Al-Wustha Dusun Rawa Sakti Gampong Jeulingke (2000-2002)
Ketua IV Ikatan Remaja Masjid (IRM) Al-Wustha Perumnas Jeulingke (1996-1998)
Indonesia Karate Do (INKADO/1994-1996)
Ikatan Siswa Kader Dakwah (ISKADA) Aceh (1994-1996)

Riwayat Pekerjaan

Tenaga Ahli Fraksi PKS DPRK Banda Aceh (2009 s.d 2013)
Anggota DPRK Banda Aceh (2004-2009)
Trainer LMT TRUSTCO Banda Aceh (2003-2005)
Staf Pengajar STKIP Bina Tunas Bangsa NAD (2003-2004)

Pengalaman di DPRK Banda Aceh

1. Tenaga Ahli Fraksi PKS DPRK Banda Aceh (2010-2013)
2. Anggota DPRK Banda Aceh Periode 2004-2009
3. Sekretaris Komisi C (Bidang Pembangunan) DPRK B. Aceh (2007-2009)
4. Sekretaris Fraksi PKS DPRK Banda Aceh (2007-2009)
5. Ketua beberapa Panitia Khusus (Pansus) DPRK Banda Aceh (2005-2009)
6. Anggota Panitia Anggaran DPRK Banda Aceh (2004-2009)
7. Alumni Pendidikan Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS) RI (Jakarta, 2007)

Media sosial:
Web            : http://faridnyakumar.com/
Facebook    : Farid Nyak Umar
Twitter        : @Faridibnuumar
Instagram    : @faridnyakumar
Koleksi Menang KO Mike Tyson

Koleksi Menang KO Mike Tyson

Mike Tyson
Mike Tyson adalah mantan juara kelas berat di dunia dan memegang rekor sebagai petinju termuda yang memenangkan gelar WBC, WBA dan IBF pada saat berumu 20 tahun, empat bulan, dan 22 hari

Berikut ini rekaman Tyson yang memenangkan banyak pertarungan sengit.


'Senyum Dong, Karim'

'Senyum Dong, Karim'

Karim Benzema
Nyaris semua pencinta sepakbola tahu bahwa Karim Benzema adalah salah satu mutiara terbaik. Tetapi, ada citra tak sedap yang menempel padanya. Makanya, senyum dong, Karim!

Dengan usia baru 20 tahun, ketajaman Benzema sudah membuat jeri lawan-lawan Lyon, klubnya, atau timnas Prancis. Menjadi top skorer Liga Prancis musim lalu dengan 21 gol menjadi bukti tak terbantahkan dari kehebatan Benzema.

Popularitas Benzema memang kian menanjak dari hari ke hari. Tetapi kehidupan bergelimang ketenaran dan kemewahan bukanlah hal yang mudah untuk bisa ditanggapi dengan bijaksana oleh seorang pemuda berusia 20 tahun.

Itulah pendapat Gregory Coupet, mantan rekan Benzema di Lyon. Benzema dianggap kiper yang kini berlabuh di Atletico Madrid itu bagaikan 'gangster' yang sudah kehilangan pegangan nilai-nilai luhur olahraga.

"Karim adalah seorang pemain yang luar biasa. Seorang pemain yang punya masa depan kelas dunia. Tetapi dia baru 20. Saat ini kita menerima semua dari pemain muda dan memberi mereka terlalu banyak," kata Coupet di Goal.

Memang banyak pemain muda yang tertelan oleh popularitas mereka sendiri. Sudah banyak pemain muda berbakat yang jadi contoh sempurna. Coupet tidak ingin hal ini menimpa Benzema.

"Karim tak akan memiliki sikap seperti saat ini jika dia mendapat saran yang lebih baik. Jika saja saya ini jadi humasnya, yang pertama adalah saya akan memintanya tersenyum sedikit karena ia punya muka yang jahat di setiap foto," ujar kiper berumur 35 tahun itu.

"Melihatnya membuat saya sedih karena saya kenal baik dengannya dan bisa bilang bahwa dia orang yang hebat. Tetapi di usia 20 tahun, dia sudah menjadi 'gangster'," tuturnya.

"Saat ini Karim lebih fokus ke dirinya sendiri, tentang rencana bisnis. Itulah yang membuat olahraga ini mati karena kita sudah tidak memberikan kesenangan kepada fans seperti dulu," tutup Coupet.
Syahrial, Sang Pemecah Dua Rekor

Syahrial, Sang Pemecah Dua Rekor

Syahrial dalam aksi lompatan
STADION Utama Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur menjadi tempat bersejarah bagi Syahrial. Bagaimana tidak, di Benua Etam inilah dia mengukir sejumlah rekor dalam dunia atletik di negari ini, khususnya dari cabang lompat tinggi. Di Kaltim, dia memecahkan dua rekor sekaligus; rekor PON dan rekor nasional.

Kabarnya teranyar tentu saja, saat atlet dari Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Aceh menoreh loncatan emas pada PON XVII 2008 Kaltim. Tak tanggung-tanggung, dia memecahkannya dua sekaligus. Dan lebih prestisius lagi, tentu saja rekor tersebut sudah puluhan tahun mengendap.

Rekor yang dipecahkan anak pasangan Muhammad, 56 tahun dan Hayatun, 50 ini tak lain rekor PON dan Nasional. Ini ditorehnya setelah berhasil melakukan loncatan setinggi 2.06 meter untuk rekor PON dan loncatan setinggi 2.09 meter untuk rekor Nasional, Rabu (9/8) di Stadion Utama Palaran Samarinda.

Rekor PON itu sudah 23 tahun lamanya tak ada yang bisa memecahkannya. Jika ditilik dari usia Syahrial yang masih 19 tahun, praktis lebih tua rekor itu sendiri ketimbang umur mantan siswa SMU Plus Banda Aceh ini. Rekor PON itu sendiri dipegang  Ketut Widiana dari Bali dengan tinggi loncatan 2.04 meter pada PON tahun 1985

Sementara Rekor Nasional dipegang Aria Yuniawa dari Nusa Tenggara Barat dengan tinggi loncatan 2.04 meter di tahun 2001. Ini masih tergolong baru, sebab baru, belum lewat sewindu. 'Kerja" anak kelima dari tujuh bersaudara yang lahir di Aceh Besar, saat memecahkan rekor tidak ringan.

Ini terlihat saat dia sempat gagal pada loncatan pertama 198 meter setelah tubuhnya menjatuhkan mistar, namun dikesempatan kedua tak disia-siakannya. Syahrial luput mengenai mistar loncatan dan berhasil mempersembahkan emas untuk Aceh.

Sukses ganda ini sangat berarti bagi dia. Sebab di Bumi Etam juga pada Juli 2001 lalu, pria setinggi 175 cm ini memecahkan rekor Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) pada cabang yang sama. Kemudian disusul pemecahan rekor di Kejuaran Asia Junior di Jakarta dengan loncatan 2.03 meter.

"Dia sudah sering memecahkan rekor. Dan PON Kaltim-lah yang paling membanggakan," papar Azhari, pelatih Syahrial, kepada Waspada dengan wajah bangga. Azhari sendiri senantiasi membimbing Syahrial dalam berlatih termasuk ketika berlatih di Bali sebelum PON ini digelar.

Tentu saja PON 2008 ini membanggakannya, sebab PON XVII Kaltim ini PON pertama yang diikuti Syahrial. "Insya Allah, jika ada umur panjang, kita akan ikuti PON selanjutnya. Tapi sekarang bersyukur dulu dengan prestasi ini," ungkapnya.

Ditanya kita apa yang dilakukan sehingga bisa memecahkan rekor. Syahrial mengaku memadukan antara teknik dan intelegensia. "Kita harus padukan antara teknik dan otak," tukasnya sembari menunjukkan tangan ke kepala.
Memecahkan rekor PON dan Nasional juga menjadi bukti Syahrial tidak cuma mengandalkan teknis.

"Saya pilih 2.06 meter itu sesuai dengan nomor dada saya 206. Padahal kalau 2.05 juga bisa pecah rekor PON, tapi saya ingin 206 saja. Begitu pula dengan rekor nasional," kata singkat.

Sukses menggondol emas membuat atlet lompat tinggi ini didapuk hadiah sebesar Rp100 juta plus bonus 1.000 USD atau sekira Rp 9 juta dari Ir Hidayat Nyakman, yang tak lain Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur (PT Kaltim. Selain itu, dia juga bakal dtimpa bonus lain dari Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB-PASI).

"Untuk pemecahan rekor, setidaknya ada bonus sekitar Rp 25 juta. Ini menjadi tambahan buat Syahrial," ujar ketua PASI Aceh, Teuku Pribadi. Dia sendiri juga sudah menyiapkan hal serupa untuk atlet 'lulusan' Asrama PPLP ini.

Namun, dia enggan menyebutkan bentuk penghargaan yang akan disalurkan. Akan tetapi, katanya, tetap menjadi prioritas PASI Aceh untuk itu. Ditanya soal rekor, Pribadi memprediksikan bakal bertahan dalam satu dasa warsa. "Untuk pecah bakal lama, kecuali dia pecahkan atas namanya sendiri," sebut Pribadi yang juga ketua Satgas Kontingen PON Aceh.

Diganjar dengan banyak bonus, tak membuat Syahrial jumawa. Katanya, bonus yang didapatinya, akan dipakai buat membantu orang tuanya. Selebihnya untuk dipakai buat pendidikan dan kebutuhan hidup serta mencari pekerjaan. "Insya Allah yang sudah terpikir itu dulu," ujarnya malu-malu. [a]

Foto: ilustrasi/sumbawanews
Karina, Banyak Jalan Menuju Roma

Karina, Banyak Jalan Menuju Roma

Ilustrasi
JIKA Allah ingin menunjukkan rahmat-Nya buat seorang hamba, akan banyak corak dan langgamnya. Bisa lewat sepotong kaos bola atau selembar lukisan saja. Reka Karina, bocah korban tsunami yang sejak kecil "bermimpi" jadi dokter meresapi rahmat itu. Siapa nyana, bila gambar coretannya setahun silam membawa berkah kemudian.

Selasa sore diawal Agustus di Lambaro Skep, Karina kembali membolak-balik dokumen simpanannya. Sebuah bundel biru tua berisi beberapa lembar penghargaan, plus buku "antologi" lukisan. Salah satu isi buku, sebuah coretan berwarna biru berupa dua lintasan gelombang. Karina menatap lagi coretan pembawa berkah ini.

"Saya mau lukis tiga buah gelombang, tapi ngak muat kertasnya," ujar Karina seraya terkekeh. Katanya, dia cuma melukis saja pada saat ikut lomba melukis disuatu hari pada April 2005. Makanya dia bilang, "Saya cuma ingat tsunami, saya lukis aja gelombang tsunami." Inilah lukisan tsunami versi Karina.

Lukisan "dua gelombang" itulah yang kemudian menghayutkan Dr Elio Matacana, Ketua Yayasan Ponte diArcimede (PdA) di Messina, Italia. Seakan ikut merasa ekses dari terpaan gelombang dalam lukisan Karina, Matacana lantas mengucurkan kocek yayasannya. Karina pun dapat beasiswa.

Cerita beasiswa itu tidak muncul serta merta. Ini bermula ketika Matacana kepicut goresan Karina yang dipamerkan bersama 44 buah lukisan anak-anak Aceh korban tsunami di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma. Waktunya 14 Februari lalu. Saat itu, KBRI menggelar acara bertajuk "Memperingati Setahun Tsunami".

Pameran ini cukup menyedot perhatian pengunjung. Salah satunya Elio Matacana ketua PdA. Dari 44 lukisan yang ada, Matacana jatuh hati pada "dua gelombang" polesan Karina. Lantas dia memutuskan memberikan apresiasi yang tinggi kepada lukisan "dua gelombang".

Lalu, Karina pun disodor beasiswa sebesar Euro 10.000. Dana ini jika rupiahkan dengan kurs sekira Rp12.000, maka ada Rp120 juta isi tabungannya. Pria Roma itu berharap dengan pemberian beasiswa itu, Karina dapat menyelesaikan pendidikan yang tinggi serta mengembangkan bakatnya dalam seni setinggi mungkin. Semua bagi masa depannya.

Akhirnya, Duta Besar Republik Indonesia di Roma Sutanto Sutoyo meminta BRR untuk membukakan deposito berjangka atas nama Karina dari beasiswa yang diberikan yayasan tersebut. "Tujuannya agar bunganya dapat digunakan untuk membiayai sekolahnya hingga perguruan tinggi yang dia cita-citakan," begitu pesan Dr Elio Matacana yang dikutip staf kedubes RI, Minister Counselor Artanto S. Wargadinata.


"Dokter" Cilik Karina

Rasanya tak sia-sia Elio mengalirkan kocek yayasannya buat gadis yang punya banyak nama kecil ini. Pasalnya, Karin, Aina atau Nana ---begitu sapaan dalam keluarga--- sejak kecil sudah mematok cita-cita tinggi; dokter. Sebuah asa yang amat mulia. "Ina tetap ngotot ingin jadi dokter," kata Ny Yulia Rosalina, ibunda Karina.

Karina punya kisah panjang. Cita-citanya tak bisa ditawar. "Apapun ceritanya dia tetap mau jadi dokter, bapak tawarin kuliah di fakultas hukum saja tak mau," kata Abdul Hamid Bujai, ayahnya. "Saya sempat berpikir tentang biaya yang mahal kalau jadi dokter, harga buku saja sudah berapa," timpal sang ibu Yulia Rosalina.

Akibatnya, Karina merasa down semangatnya dan selalu termenung. Namun dengan sikap keibuannya, Yulia membimbing gadis manis itu. "Saya selalu bilang agar dia bersabar. Allah sayang dengan orang-orang yang sabar. Mungkin suatu saat Allah akan menunjukkan jalannya."

Nasihat itu amat meresapi sanubari si alis tebal ini. Dia pun sabar, dan Karina pun menjalani hari-harinya sebagai anak yang mandiri serta inovatif dan suka membantu orang tuanya. "Diam Karin adalah tidur, kalau udah tidur baru nggak ada yang dia kerjakan lagi," sambung ayahnya.

Begitu juga dengan hobi melukis. Waktu senggang dia kerap melukis apa saja. Coretan mencoret di kertas sudah dimulai sejak sekolah dasar sampai sekarang. Antara cita-cita menjadi dokter dan hobi melukis memang bak laut dan darat. Tapi Karina tak peduli.

Begitu pun, dia sama sekali tak pernah melukis sosok seorang pasien yang sedang diobati. Atau seorang pasien yang sedang diinfus. Barangkali dia trauma, sehingga jarang kepikir ke sana. Sebab, menurut ibunya, ketika masih bayi, calon dokter itu kerap diserang diare. Tak pernah reda.

Bayi yang bernama Chik Wita ini kerap keluar masuk rumah sakit. "Bentar-bentar ke rumah sakit," keluh ibunya. Kedua orang tuanya nyaris putus asa. Akhirnya, mereka sepakat untuk mengganti nama bayi mungil itu. Lantas dipilihlah nama Reka Karina.

Ajaib. Diare yang akrab dengan adik dari Stranye Apramilia hilang bak ditelan bumi. "Ada kepercayaan seperti itu dalam masyarakat kita. Alhamdullillah, setelah ganti nama dia tidak diare lagi," papar Hamid, bekas Kepala Desa Lambaro Skep ini.

Kini Karina beranjak remaja. September nanti umurnya 11 tahun. Saat ini dia tercatat sebagai siswi kelas 1.1 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Lampriek, Banda Aceh. "Dia salah satu siswi kelas inti di sini," kata Salma Ismail, S.Pd, wakil kepala bidang kurikulum sekolah itu.

Praktis orang tuanya sangat bangga dengan bekas siswi MIN Banda Aceh ini. Bukan itu saja,
Hamid juga merasa surprise dengan beasiswa yang diperoleh Aina. "Dana itu akan dipakai semata-mata untuk pendidikan dia. Terima kasih banyak dari kami sekeluarga," imbuh Abdul Hamid.

Keduanya bertekad untuk mengelola dengan baik depositnya guna kepentingan sekolah Karina. Tentu saja untuk biaya-biaya sekolahnya hingga perguruan tinggi nanti. Otomatis dia memilih Fakultas Kedokteran. "Kan untuk mencapai cita-cita jadi dokter?," sambung Aina.

Begitulah rahmat yang diterima anak ketiga pasangan A Hamid Bujai dan Yuli Rosalina ini. Pepatah "Banyak Jalan Menuju Roma", kini benar-benar menyelingkupi hati Katina. Bagaiman tidak, dengan beasiswa dari Roma dia menggapai cita-citanya. Selamat.
Zaskia: Panggil Saja Aku Sarah!

Zaskia: Panggil Saja Aku Sarah!

SUNGGUH mulia hati wanita berkulit putih ini. Perhatiannya untuk kaum jelata cukup luar biasa. Atas dasar itulah, dia rela meninggalkan hutan beton di Jakarta bertandang ke hutan Aceh di Pulau Sumatra. Tujuannya menjenguk anak-anak korban tsunami.

Itulah Zaskia A. Mecca, tokoh Sarah dalam sinetron "Kiamat Sudah Dekat" yang ditayangkan stasiun televisi swasta nasional. "Aku sih seneng banget, kalo lihat mereka," ucapnya dalam logat Jakarta ketika ngobrol dengan Waspada.

Makanya tak heran, bila kesehariannya juga tak jauh beda dengan peran di dunia akting. Akrab dengan anak-anak, suka membantu mereka yang nasibnya kurang baik.

Selasa (4/4) siang lalu, cuaca Desa Geunteut, Kec Lhoong, Aceh Besar, memang cukup terik. Namun itu tidak membuat dara cantik ini kegerahan, kendati tubuhnya dibalut abaya merah plus jilbab coklat muda.

Hari itu, Zaskia plus dua bintang sinetron lainnya, David Khalid dan Muhammad Haikal yang tak lain adiknya, hadir ke Lhoong menghadiri peresmian SMP Lhoong yang dibangun Pundi Amal SCTV. Selain itu mereka juga menyerahkan bantuan kepada siswa-siswi sekolah tersebut.

Ini adalah untuk kedua kali Zaskia menginjak kaki di Tanoh Aceh. Sebelumnya, sekira tiga bulan lalu dia juga pernah bertandang ke Banda Aceh, Sigli dan sekitarnya. Tentu saja, masih dalam kegiatan amal.

Sementara David, menjadi lawatan untuk keempat kali.Sedang Haikal yang pernah membintangi sinetron "Bidadari" ini, baru pertama kami menginjak tanah rencong.

Bagi Zaskia, pada lawatannya yang kedua, dia merasa cukup banyak mengutip kesan. Pasalnya dia harus menjelajah pesisir barat sejuah 60 km dari Banda Aceh, plus masuk ke pelosok desa yang dulu cukup rawan di masa konflik.

Selain itu, berangkat ke Aceh juga bukan tanpa konsekuensi. Gadis kelahiran 8 September 1987 di Jakarta ini harus absen ikut ujian tengah semester di kampusnya. Zaskia kuliah di jurusan Psikologi,Paramadina Jakarta.

"Karena ingin melihat anak-anak korban tsunami, makanya aku putuskan tunda ujian. Tapi aku sudah minta izin sama dosen," tutur anak 2 dari tujuh bersaudara ini.

Tapi kali ini, Zaskia mengikutsertakan adiknya Muhammad Haikal. Haikal, sambung Zaskia, adiknya yang kedua, atau anak keempat dalam keluarganya. Saat ini Haikal sekolah di SMP Al Azhar Jakarta.

"Ini tak ada kaitannya dengan sinetron itu. Tapi ketika ditawari SCTV ke Aceh, aku kepengen banget. Aku pengen lihat dari dekat anak-anak di sini," tutur mantan model majalah remaja ini.
Saat bertemu anak-anak Lhoong, Zaskia mengaku bisa merasa semangat belajar mereka cukup luar biasa. Katanya, meski sudah mendapat musibah yang amat dahsyat, tapi spirit hidupnya patut ditiru.

"Kita perlu mendukung terus mereka. Aku seneng banget denger cerita-cerita mereka tadi," ujar Zaskia, juara 2 pada pemilihan model majalah remaja Kawanku pada 2001 lalu. Zaskia melihat, musibah tsunami adalah ujian paling berat bagi warga Serambi Makkah, namun itu menjadi ladang amal bagi warga di luar Aceh, termasuk dirinya.

Atas landasan itu, dia ingin mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan sosial. "Aku ingin hidup aku bisa bermanfaat bagi orang lain," tutur gadis yang kelak bercita-cita ingin berbisnis.

Lantas main sinetron? "Itu bukan cita-citaku," cetus gadis yang membisu saat ditanya hubungannya dengan Syahrul Gunawan ini. "Aku tak mau jawab kalau ditanya masalah itu."
Pun demikian, nona semampai yang pertama uji akting di sinetron "Cinta SMU" serta "Senandung Masa Puber" ini tetap konsen diseni peran. Sama konsennya dengan busana muslimah.

"Aku merasa enjoy. Aku tidak takut kehilangan peran. Allah sudah mengatur rezeki kita. Dengan memakai jilbab tidak mengurangi rezeki aku," Zaskia yang mulai berjilbab pada 2005 itu berargumen.

Malahan, kata dia, tiga bulan lagi sinetron "Kiamat Sudah Dekat 2" akan ditanyangkan. Wanita yang senang dipanggil Sarah ini, juga akan membintangi sinetron favorit Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

"Tetapi, perannya sedikit berkurang," kata Sarah, eh Zaskia A. Mecca.